"Apa Aku Kurang Baik?" — Pertanyaan yang Terlalu Akrab
Pernah nggak, setelah hubungan berakhir, kamu
duduk sendirian sambil mengulang-ulang satu pertanyaan yang sama:
"Sebenarnya salah aku di mana?"
Padahal, cerita cintanya sudah selesai. Pesan
terakhir sudah terkirim. Tapi pikiranmu masih sibuk menelusuri setiap
detail—kata-kata yang mungkin terlalu tajam, sikap yang mungkin terlalu
menuntut, atau perhatian yang mungkin terasa berlebihan.
Kalau kamu pernah ada di fase ini, kamu tidak
sendirian. Banyak wanita mengalami hal yang sama: menyalahkan diri sendiri
saat hubungan gagal, bahkan ketika kesalahan tidak sepenuhnya ada di
pihaknya.
Kenapa bisa begitu? Jawabannya bukan karena kamu lemah. Justru sebaliknya.
Wanita
Dibesarkan untuk Bertanggung Jawab atas Perasaan Orang Lain
Sejak kecil, banyak wanita terbiasa mendengar
kalimat seperti:
Tanpa sadar, pola ini tertanam kuat. Wanita
tumbuh dengan keyakinan bahwa keberhasilan atau kegagalan hubungan adalah
tanggung jawabnya.
Saat hubungan berjalan baik, itu dianggap wajar. Namun saat hubungan gagal? Otak langsung mencari satu tersangka utama: diri sendiri.
Terlalu
Empati Sampai Lupa Diri Sendiri
Empati adalah kekuatan wanita. Tapi di sisi
lain, empati yang berlebihan bisa berubah menjadi jebakan.
Wanita sering kali:
Akhirnya, hubungan yang sebenarnya tidak sehat
justru dibingkai sebagai:
"Mungkin aku saja yang kurang
sabar."
Padahal, hubungan gagal tidak selalu
berarti kamu gagal sebagai pasangan.
Standar
Sosial yang Diam-Diam Menekan
Di masyarakat, wanita sering dihadapkan pada
standar tak tertulis:
Tanpa disadari, kegagalan hubungan terasa
seperti kegagalan personal.
Apalagi jika ditambah pertanyaan dari sekitar:
“Kok bisa putus?”
“Kamu ngapain aja selama ini?”
Bukan niat menyalahkan, tapi cukup untuk
membuat luka semakin dalam.
Cinta yang
Terlalu Total
Banyak wanita mencintai dengan sepenuh hati. Bukan setengah-setengah. Saat mencintai, ia memberi:
Ketika hubungan berakhir, rasanya bukan hanya
kehilangan pasangan—tapi juga kehilangan versi diri yang penuh harapan.
Dan saat kehilangan itu terjadi, menyalahkan
diri sendiri terasa seperti cara termudah untuk mencari makna.
Tapi…
Apakah Menyalahkan Diri Sendiri Selalu Salah?
Menariknya, refleksi diri sebenarnya tidak
selalu buruk.
Bertanya:
Itu sehat.
Yang tidak sehat adalah ketika refleksi
berubah menjadi:
"Aku memang tidak pantas dicintai."
Atau:
"Kalau aku lebih baik, dia pasti tidak
pergi."
Di titik ini, refleksi berubah menjadi
self-blaming yang melelahkan.
Hubungan
Gagal Tidak Sama dengan Kamu Gagal
Ini bagian yang sering terlupakan. Hubungan adalah kerja dua orang. Kalau hanya satu pihak yang terus merasa bersalah, ada kemungkinan:
Coba tanyakan pelan-pelan pada diri sendiri:
"Apakah aku sudah jujur pada kebutuhanku
sendiri selama ini?"
Kalau belum, mungkin masalahnya bukan karena
kamu kurang baik—tapi karena kamu terlalu sering mengesampingkan diri sendiri.
Pelan-Pelan,
Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri
Menyembuhkan diri setelah hubungan gagal bukan tentang melupakan segalanya. Tapi tentang:
Kalau kamu pernah merasa terjebak dalam
overthinking setelah hubungan berakhir, kamu mungkin juga relate dengan
pembahasan tentang kenapa wanita sulit move on meski sudah disakiti di
artikel lain di Infonita.
Penutup:
Kamu Tidak Sendiri, dan Kamu Tidak Rusak
Kalau saat ini kamu sedang berada di fase menyalahkan diri sendiri… Tarik napas sebentar. Hubungan yang gagal tidak mengurangi nilaimu sebagai wanita.
Kadang, itu hanya tanda bahwa kamu sedang
belajar—tentang batasan, tentang cinta yang lebih sehat, dan tentang menghargai
diri sendiri.
💬 Sekarang aku penasaran dengan ceritamu.
Apakah kamu tipe yang langsung menyalahkan
diri sendiri saat hubungan berakhir? Atau justru baru sadar setelah membaca
ini?
Tulis di kolom komentar, ya. Siapa tahu
ceritamu bisa jadi pelukan virtual untuk wanita lain yang sedang berada di fase
yang sama.
0 Komentar