Bayangkan ini: Kamu sedang chatting seru dengan seorang pria yang baru kamu kenal. Obrolan kalian intens. Dia perhatian, membuatmu tertawa, dan bahkan sempat bilang, “Kamu beda dari yang lain.”
Lalu... poof—dia hilang seperti ditelan bumi. Tidak ada kabar, tidak ada pesan. Kamu mengecek ponsel setiap menit. Online, tapi tidak membalas. Sampai akhirnya, kamu sadar: kamu sedang dighosting.
Ghosting adalah ketika seseorang tiba-tiba menghilang dari komunikasi tanpa penjelasan apa pun, terutama dalam hubungan yang melibatkan perasaan.
Bisa terjadi setelah PDKT, saat pacaran, bahkan setelah hubungan yang kelihatannya serius. Rasanya? Seperti nonton film yang belum tamat, tapi file-nya rusak dan kamu nggak bisa tahu ending-nya.
Ternyata, ghosting itu nggak sesimpel “dia nggak tertarik lagi.” Ada banyak lapisan psikologis dan alasan di balik perilaku ini.
Beberapa pria bisa sangat charming di awal, tapi ketika hubungan mulai serius, mereka merasa terintimidasi. Komitmen terasa seperti jebakan, dan satu-satunya jalan keluar menurut mereka adalah... menghilang.
Sakit, tapi nyata: bisa saja dia sedang dekat dengan beberapa orang, dan akhirnya memilih salah satunya. Alih-alih memberitahu dengan jujur, dia memilih kabur.
Ini menarik: beberapa pria ghosting bukan karena kamu kurang menarik, tapi justru karena kamu terlalu menarik. Mereka merasa tidak percaya diri, insecure, atau takut tidak bisa memenuhi ekspektasimu.
Ada juga pria yang hanya ingin merasa diinginkan. Mereka senang saat kamu memberikan perhatian, tapi ketika sudah mendapatkannya, mereka kehilangan ketertarikan.
Pria dengan luka batin dari hubungan sebelumnya bisa cenderung ghosting karena takut terluka lagi. Mereka belum sembuh, dan menghilang terasa lebih aman.
Ghosting meninggalkan luka tak kasat mata yang bisa membentuk pola toxic dalam kehidupan cinta berikutnya, kalau tidak disadari sejak awal.
Saat pria ghosting, reaksi alami kita mungkin ingin bertanya, marah, atau bahkan membalas. Tapi percayalah: cara terbaik untuk menangani ghosting adalah dengan kelas dan ketegasan.
Ghosting berbicara lebih banyak tentang dia, bukan tentang kamu. Orang dewasa yang matang akan memilih komunikasi, bukan kabur.
Kamu tidak perlu menulis paragraf panjang atau menunggu alasan darinya. Jika seseorang benar-benar peduli, dia tidak akan membuatmu bertanya-tanya.
Balas dendam hanya membuat luka makin dalam. Fokuslah untuk sembuh, bukan membalas.
Isi waktumu dengan hal-hal yang membangun: olahraga, journaling, hangout, belajar hal baru. Cintai dirimu lebih dulu.
Kamu tidak kehilangan orang yang tepat. Kamu dibebaskan dari orang yang tidak cukup dewasa. That’s a win!
Yes, this is the twist. Tanpa sadar, wanita juga pernah ghosting orang lain. Mungkin karena bingung memberi alasan atau tidak ingin menyakiti perasaan.
Momen ini mengajarkan satu hal penting: komunikasi itu sulit, tapi jauh lebih baik daripada menghilang.
Kamu bisa membangun boundaries dan mengenali tanda-tandanya lebih awal.
Ingat: kamu tidak butuh seseorang yang membuatmu bertanya-tanya—kamu butuh seseorang yang membuatmu merasa yakin.
Ghosting memang menyakitkan, tapi ia juga bisa menjadi wake-up call bahwa kamu pantas mendapatkan cinta yang hadir sepenuhnya.
A: Tergantung konteksnya. Jika seseorang ghosting lalu kembali dengan penjelasan yang jujur, maafkan jika hatimu siap. Tapi jangan abaikan pola.
A: Ya. Ini menunjukkan kurangnya kedewasaan emosional dan ketidakmampuan menyelesaikan konflik.
A: Tentu bisa. Dengan proses healing yang sehat, kamu akan kembali percaya pada cinta—yang tepat akan datang pada waktunya.
Sudah pernah mengalami ghosting? Ceritain di kolom komentar dan yuk saling support satu sama lain. Jangan lupa baca juga artikel kami yang lain relationship di blog ini.
0 Komentar